Senin, 09 Desember 2013
Jumat, 08 November 2013
Pahlawanku Ada
Pahlawanku Ada
Oleh : Wa Ode Puspa Khairunnisa
Ada...
Lindungi benang-benang halus romaku
Mentari mencair gigil memucat
Cahya menelan potongan bulan sabit
Percik hujan menggenangi gurun sahara
Menyentuh benang romaku
Memayungi kerdil nyaliku
Memagari gedoran pintu emosiku
Mendayung jernih duka
Di depan, kompas sang waktu
Di kiri, pengendali elemen duniawi
Di belakang, pendorong kerlip asa
Di kanan, perpanjangan tangan.
Ada...
Pahlawanku; sesembahan yang esa.
Takalar, 15 Oktober 2013
Oleh : Wa Ode Puspa Khairunnisa
Ada...
Lindungi benang-benang halus romaku
Mentari mencair gigil memucat
Cahya menelan potongan bulan sabit
Percik hujan menggenangi gurun sahara
Menyentuh benang romaku
Memayungi kerdil nyaliku
Memagari gedoran pintu emosiku
Mendayung jernih duka
Di depan, kompas sang waktu
Di kiri, pengendali elemen duniawi
Di belakang, pendorong kerlip asa
Di kanan, perpanjangan tangan.
Ada...
Pahlawanku; sesembahan yang esa.
Takalar, 15 Oktober 2013
Persembahan Terakhir
Persembahan Terakhir
Wa Ode Puspa Khairunnisa
Derai-derai mendayu rinai hujan mengamini,
Kelopaknya meletup menangkap lembar ayat suci,
Tafakur hening gelar sujud ampunannya,
Ombang-ambing napasnya meremas dingin,
I’tikafnya mengundang makhluk langit,
Ciumi keningnya, hantarkan cintanya,
Ia berseru melambai pada takbir dan dzikirnya.
Amal seribu bulan: Persembahan terakhir.
Takalar, 30 Juli 2013
Wa Ode Puspa Khairunnisa
Derai-derai mendayu rinai hujan mengamini,
Kelopaknya meletup menangkap lembar ayat suci,
Tafakur hening gelar sujud ampunannya,
Ombang-ambing napasnya meremas dingin,
I’tikafnya mengundang makhluk langit,
Ciumi keningnya, hantarkan cintanya,
Ia berseru melambai pada takbir dan dzikirnya.
Amal seribu bulan: Persembahan terakhir.
Takalar, 30 Juli 2013
Ketika Hariku Terusik
_-Ketika Hariku Terusik-_
Oleh : WP. Khairunnisa
Bisik deru angin menggelitik sayap inderaku,
Menyulap cekung lembah di cawan pipiku,
Ragaku membumbung tak bergravitasi,
Bintang mengerling gemas pada desir hatiku,
Rerumputan hijau bergoyang seirama merdu detak jantungku,
Senyap terlukis diantara bising nyata,
Pun kaki bumi kian lamban melangkah,
Senja dan fajar berlomba menyemai benih.
Ketika hariku terusik..
Oleh memoar suci berpelangi,
Saat tentangmu menerpa lembut ilalang.
Berjanji tentang kedamaian,
Berisyarat tentangmu dan cinta.
Ketika hariku terusik..
Awan pikir menjumput kasih di lembayung senja,
Memeluk hantaran salam rindu sang gulita malam.
Dalam tiap lenting waktu: Namamu mengusik hariku.
Takalar, September 2013.
Oleh : WP. Khairunnisa
Bisik deru angin menggelitik sayap inderaku,
Menyulap cekung lembah di cawan pipiku,
Ragaku membumbung tak bergravitasi,
Bintang mengerling gemas pada desir hatiku,
Rerumputan hijau bergoyang seirama merdu detak jantungku,
Senyap terlukis diantara bising nyata,
Pun kaki bumi kian lamban melangkah,
Senja dan fajar berlomba menyemai benih.
Ketika hariku terusik..
Oleh memoar suci berpelangi,
Saat tentangmu menerpa lembut ilalang.
Berjanji tentang kedamaian,
Berisyarat tentangmu dan cinta.
Ketika hariku terusik..
Awan pikir menjumput kasih di lembayung senja,
Memeluk hantaran salam rindu sang gulita malam.
Dalam tiap lenting waktu: Namamu mengusik hariku.
Takalar, September 2013.
GELAPKU
- GELAPKU -
Sunyi senyap, redam ditelan gesekan riuh cicitan malam,
Kelopak alisku mengerjap menyambut desis lambai angin.
Air saljuku mengering menyantap pahitnya napasku,
Benciku. Menyeruakkan umpat nadiku.
Inginku, sayap ragaku membumbung di awan,
Aku menepi atas gelagat gemulaimu.
Setelahnya, aku mencengkeram amarahku,
Tak menyisahkan celah pembaringanmu,
Asaku pupus tuk menambal lubang perih jemarimu,
Untukmu, aku akhiri katamu.
Penulis : WP. Khairunnisa
Sunyi senyap, redam ditelan gesekan riuh cicitan malam,
Kelopak alisku mengerjap menyambut desis lambai angin.
Air saljuku mengering menyantap pahitnya napasku,
Benciku. Menyeruakkan umpat nadiku.
Inginku, sayap ragaku membumbung di awan,
Aku menepi atas gelagat gemulaimu.
Setelahnya, aku mencengkeram amarahku,
Tak menyisahkan celah pembaringanmu,
Asaku pupus tuk menambal lubang perih jemarimu,
Untukmu, aku akhiri katamu.
Penulis : WP. Khairunnisa
Selasa, 29 Oktober 2013
PADA PAGI
PADA PAGI
Cuit menyahut riuh di rumah siputku
Hamparan permadani oranye membentang
Gesekan ban dan alas kaki berdecit ria
Tetesan mutiara hinggap di ruas-ruas ilalang
Hembusan irama pendorong gelora hidup menyusupiku,
Meredam sendu sedanku
Meremukkan keperihanku
Meluruhkan benteng kristalku.
Pada pagi...
Aku menyemai suka di awang-awang,
Ria hidup terurai meliukkan dedaunan.
Pada pagi...
Kekanakanku meraga terbang temui kepingan memori itu
Akan cerita pada pangkuan dan belaian Bunda.
Takalar, September 2013.
----
Penulis : Wa Ode Puspa Khairunnisa
Cuit menyahut riuh di rumah siputku
Hamparan permadani oranye membentang
Gesekan ban dan alas kaki berdecit ria
Tetesan mutiara hinggap di ruas-ruas ilalang
Hembusan irama pendorong gelora hidup menyusupiku,
Meredam sendu sedanku
Meremukkan keperihanku
Meluruhkan benteng kristalku.
Pada pagi...
Aku menyemai suka di awang-awang,
Ria hidup terurai meliukkan dedaunan.
Pada pagi...
Kekanakanku meraga terbang temui kepingan memori itu
Akan cerita pada pangkuan dan belaian Bunda.
Takalar, September 2013.
----
Penulis : Wa Ode Puspa Khairunnisa
YANG SAMA
Puisi
YANG SAMA
Oleh : Wa Ode Puspa Khairunnisa.
Nyaris sama; angin malam menyentuh pucuk klorofil
Ada gulita bergelayutan pada langit
Hamparan permadani bintang berkedip ria
Melodi rindu susupi ruas jemariku.
Hampir sama; tekstur lekukan dinding ini
Jejak tapakan tempeli tanah ini
Butiran kerikil bening menggantung di ujung atap.
Masih sama ; Aroma khas kisah romantika ini
Jengkal hadirmu terhitung oleh romaku
Remah-remah bekas napasmu kubangun.
Beri aku...
Yang sama; jiwa seutuh ragamu.
Takalar, 21 September 2013
YANG SAMA
Oleh : Wa Ode Puspa Khairunnisa.
Nyaris sama; angin malam menyentuh pucuk klorofil
Ada gulita bergelayutan pada langit
Hamparan permadani bintang berkedip ria
Melodi rindu susupi ruas jemariku.
Hampir sama; tekstur lekukan dinding ini
Jejak tapakan tempeli tanah ini
Butiran kerikil bening menggantung di ujung atap.
Masih sama ; Aroma khas kisah romantika ini
Jengkal hadirmu terhitung oleh romaku
Remah-remah bekas napasmu kubangun.
Beri aku...
Yang sama; jiwa seutuh ragamu.
Takalar, 21 September 2013
Langganan:
Postingan (Atom)