Dulu, waktu masih sering ikutan lomba nulis antologi, pernah sekali ngajak sepupu yang tulisannya emang TOP BGT sayangnya dia domisili di kampung, yang nihil jaringan inet. Saat saya ngomong ke PJ event-nya, kalau-kalau saya bisa ngirim karyanya pakai email saya. Eh, tuh PJ ngomong begini, "Mbak, mana ada di zaman sekarang orang gak bisa internetan?"
Saya pen ketawa miris kalau ingat. Itu dulu, sampai sekarang masih saja begitu. Boro-boro internetan, bisa nelpon dan sms aja sudah luar biasa. Itu juga cuma bisa ngakses Indos*t. Jangan bahas jaringan lah, listrik aja yang bisa dibilang kebutuhan masa kini, bikin kita sapu dada. Bayangkan saja, di kampung saya itu, lampu nyala bergilir per dusun. Sehari nyala, sehari mati. Kalau datang teganya, bisa sampai seminggu nyala, seminggu mati. Itupun cuma nyala di malam hari. Saya jadi sampai hapal jenis-jenis alternatif penerangan tanpa listrik. Sampai kenal yang namanya setrika arang, yang pakai bara api terus dipanasin di atas kompor buat nyetrika. Kalian masih ingat wartel? Di kampung saya, itu masih digunakan. Di rumah saya juga masih ada telepon rumah yang pakai kabel itu.
Tapi saya sangat sangat bersyukur, karena hal itu, kalau pulang kampung, saya masih bisa ngerasain lingkungan, sosial, dan budaya yang hampir punah di zaman yang katanya millenium ini, bisa gak kecanduan gadget di zaman yang katanya generasi google, dan bisa jadi anak-anak lugu kriminalitas dan pergaulan bebas di era yang katanya globalisasi ini.
Tidak muluk-muluk, setidaknya listrik bisa nyala terus dan jaringan ada terus. Apa-apa sekarang bergantung sama listrik, kasihan juga anak rantau kalau mau lepas rindu sama keluarganya.
Susah juga sih ya, yang ngakunya dewan perwakilan rakyat di daerah tiba-tiba tuli, yang dulu pernah janji manis sampai kepilih jadi pelayan rakyat, tiba-tiba jadi buta. Ketemu sama masyarakat yang polos dan nurut-nurut aja. Bersuara dikit, disumpal. Beraksi dikit, digulingkan. Mahasiswa kalau pulang, dikasih ini itu yang wah wah, biar gak banyak ngemeng. Sekalinya ada yang cerdas, cuma diam. Saya jadi berpikir buat nulis surat cinta untuk Pak Presiden. Hahaha.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar