Di luar sana, ada hasil ciptaan Tuhan yang diperuntukkan untuk menemani. Terkadang dalam hidup, tanpa diduga ada yang diam-diam mengamati kita, menjaga kita, dan melakukan hal-hal yang takkan pernah bisa dilakukan oleh makhluk yang diciptakan paling mulia. Karena satu hal yang diingkari, mereka mempunyai ... hati. Hati yang jauh lebih peka.
***
Takalar, 6 Agustus 2012
Hujan di jendela ini masih sama, butir-butir air masih menempel. Tanah di bawahnya masih lembap. Dingin ini, dan ketenangan ini. Semua masih sama seperti sebulan lalu ketika aku meninggalkan tempat ini. Hanya ada dua hal yang berbeda untuk sekarang dan nanti. Kau … kehadiranmu tak ada lagi dan jendela ini akan terasa berbeda.
“Puspa, ayo kembali ke kelas!” suara sahabat mengejutkanku pada semua tentangmu, tentang kita. Tatapanku menerawang lepas mengamati setiap centi ruangan ini sebelum kakiku benar-benar melangkah pergi tuk meninggalkan kelas yang pernah menjadi kenangan antaraku dan dirimu. Memori itu terkisah bagai durasi video yang menampilkan rentetan adegan-adegan manis membuat alam pikirku tak kuasa tuk berjumpa.
“Duh, lucunya ... Kau dapat dimana?” Tanya Riri, teman sekelasku, seraya mengelus lembut bulumu yang halus, berwarna perpaduan antara kuning dan putih. Ukuran tubuhmu yang mini dan bersih, membuat daya tarik tersendiri. Bola matamu yang coklat terang menatap sendu penuh rintih kepadaku. Kuelus lehermu, kepalamu ikut terangkat, perlahan matamu terpejam bersama kedamaian.
“Pussy, tidur yang nyenyak ya.”Aku memanggilmu Pussy, kuambil dari tiga huruf nama depanku. Kehadiran Pussy di kelas, membuat kebanyakan temanku resah. Ada yang bersin-bersin karena alergi dengan bulumu, ada pula yang menganggapmu makhluk dekil dan bau. Namun tidak denganku, aku menyukaimu sejak awal walau harus kuakui trauma dengan cakar makhluk sepertimu masih menghantuiku. Kau terlelap di atas rok abu-abuku, membuatku tak boleh banyak bergerak agar kau tak terbangun. Aku akan risau jika kau mengeong pelan pertanda kau telah bangun. Sementara guruku sedang berada di depan kelas.
Jam istirahat, aku menyimpanmu di laci mejaku, “Jangan kemana-mana ya? Aku akan segera kembali!” kataku yang dijawab dengan elusan kepalamu di telapak tanganku. Aku merasa, kita bisa berkomunikasi dengan baik. Walau aku tak yakin, kau mengerti dengan bahasaku.
Aku akan memberikan sisa makananku untuk kau makan. Kata orang, jika ada dua orang yang makan dalam satu wadah maka mereka akan saling mengingat. Apakah itu berlaku untuk makhluk sepertimu? Entahlah. Aku menatapmu yang sedang lahap menyantap bagianmu. Oh Tuhan, kenapa aku baru melihat sayatan luka di tubuhmu? Apa yang telah terjadi padamu? Dan, apa yang harus kulakukan? Aku hanya bisa menatapmu penuh kasih, semoga saja hal bodoh yang kulakukan ini, bisa membuatmu tak merasa sakit.
Hari ini, guru mata pelajaran geografiku berhalangan masuk tuk membagikan ilmu. Kesempatan ini tak disia-siakan olehmu. Kaki-kaki mungilmu menggelayut manja di lenganku, meloncat di pangkuanku dan berlari-lari mengelilingi kelas ketika aku sibuk menyelesaikan tugasku. Dan, kau akan datang padaku ketika tubuhmu telah letih lalu tidur di atas tas atau tumpukan buku-bukuku. Jika sudah begitu, aku akan dengan sangat hati-hati memindahkanmu ke laci mejaku.
“Ih, kau jorok sekali, Puspa. Apa kamu tak jijik dengan hewan berbulu itu?” tanya salah seorang temanku. Aku menggeleng lalu menatapnya dengan senyum yang mengambang di pipiku, “Setidaknya, dia tak berbuat buruk padaku, seperti yang dilakukan anak adam,” jawabku.
It’s time to back home, aku bergegas untuk keluar dari kelas, kau mengikutiku dan mengelus-ngeluskan bulumu di kakiku. Aku terus berjalan pulang dan tak menghiraukanmu. Bagaimana pun juga, aku tak mungkin membawamu ikut ke rumahku. Tapi, kau terus saja mengikuti langkahku dan menyelinap di ujung rok panjangku hingga langkah kakiku sampai di gerbang sekolah.
“Huss ... huss ... huss ...,” kukibas-kibaskan tanganku mengusirmu namun kau memang keras kepala, masih kokoh berdiri tanpa bergeser barang se-centi pun. Lama aku mengulangi kegiatanku tapi kau tetap bersikeras tak mau pergi.
“Pergilah! Aku mau pulang! Jangan mengikutiku terus!” bentakku keras sambil berlari keluar gerbang. Hingga beberapa langkah aku berlari, badanku membalik ke belakang dan kau benar-benar pergi. Sigap, aku berlari memasuki sekolahku dan mencarimu. Aku ... menyesal.
“Pussy, maafkan aku. Kita akan ketemu lagi besok. Aku tak bisa membawamu ke rumah,” kataku final ketika mendapatimu duduk termenung di atas mejaku.
***
Aku melupakanmu. Di benakku, kau pasti telah pergi menjelajah bersama kawan-kawanmu. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk bertemu denganmu lagi. Sepertinya pikiran itu harus kutepis ketika pagi ini kulihat kau duduk manis di atas mejaku. Mataku membulat, memastikan bahwa itu benar-benar dirimu, Pussy.
“Kenapa kau tak pergi saja?” tanyaku sambil mengelus kepalamu. Kau mengeong dan menjilat-jilati kakimu.
“Puspa, kau sudah gila yah mengajak bicara makhluk ini?” Aku hanya tersenyum membalas ucapannya.
“Wah ... ini yang seperti kemarin kan?” tanya Riri, ia juga menyukaimu. Aku mengangguk. “Kenapa dia ada di sini lagi?”
Kuangkat kedua bahuku menjawab pertanyaan Riri. “Mungkin dia tak tahu jalan pulang,” lanjutku sambil tertawa lucu.
“Kenapa ada hewan di kelas? Bawa dia keluar, Puspa!” perintah wali kelasku sambil menutup hidung dan mulutnya.
“Tapi, Bu ... dia tidak akan ...”
“Bawa dia keluar!” bentak guruku.
Mataku mencuri pandang keluar kelas, kau masih duduk tepat di depan kelasku tanpa sedikitpun berpindah tempat hingga pelajaran usai. Hal ini terulang berkali-kali dan setiap hari. Kau akan duduk menungguku di depan kelas ketika jam pelajaran atau tidur di laci mejaku, kau akan mengantarku pulang sampai di gerbang dan akan duduk manis menungguku di atas meja pada pagi hari. Aku selalu ingin cepat menemuimu setiap pagi.
Semua berlalu indah selama hampir sebulan, hingga aku menemukanmu mengeong pilu di balik jendela kelas. Teman-teman priaku dengan tega membuangmu. Kau terus mengeong tiada henti sambil berusaha memanjati dinding belakang sekolah.
Setitik air bening menyusup dari sudut mataku melihat deritamu. Dan, hujan deras menghantam tubuh mungilmu, sahutanmu terhenti. Kulihat mata sayumu menggigil kedinginan. Tak sanggup lagi kubentengi deras air mataku yang berlomba keluar. Kumasukkan satu tanganku ke lubang jendela yang telah dihalang oleh rangkaian besi rumit ini. Semampuku, tuk menggapaimu. Dan, hap! Aku memelukmu erat dan membungkus tubuh dinginmu dengan jilbabku. Kristal bening berjalan menyusuri lekuk pipiku. Aku sangat takut. Takut kehilanganmu!
***
Aku kembali dari sebulan liburanku di kampung halaman. Terngiang ucapanku kala itu, “Aku akan pergi, kita akan ketemu lagi nanti!” Dan, kau mengeong.
Rasa sakit terasa hingga di ujung syaraf terhalusku. Aku tak menemukanmu lagi di sini, di pagi ini! Kemana dirimu? Aku sangat yakin kau menungguku selama ini. Terima kasih untuk waktu dan kebahagiaan yang singkat ini. Maafkan aku, membuatmu menunggu lebih lama.
***
Takalar, 23 Agustus 2013
“Kau lihat ini, Puspa?” aku memalingkan wajahku dari layar laptop-ku. Kudapati Tanteku tengah menimang makhluk kecil berbulu, berwarna … putih dan kuning?
“Dia … dia mirip dengan … mengingatkanku pada … ah!” Aku segera beranjak masuk ke kamar. Ada bulu halus yang terasa menyentuh kakiku. Aku bergidik geli. Lama aku memperhatikan geriknya yang sedang menginjak tuts keyboard laptop-ku. Kalimat tak beraturan muncul di layar Ms. Word, membuatku terkekeh geli. Kubuka folder yang berisi koleksi gambar-gambar kucing. Kutampilkan satu persatu, matanya yang mungil menatap serius tak berkedip ke layar monitor.
“Kau sangat mirip dengan Pussy. Andai Pussy masih ada di sini …,” kuhembuskan napas berat seraya mengelus kepalanya. Mataku menerawang lepas mengenangmu.
“Auw!” aku mengerang kesakitan ketika makhluk berbulu ini mencakar tanganku.
“Kau kasar sekali! Sama sekali tak seperti Pussy!” hardikku kasar sambil mengeluarkannya dari kamarku.
Semenjak itu, aku tak menyukai kucing, bagaimana pun, dia tak bisa menggantikan posisimu. Walau begitu, aku tak tega jika dia terus kelaparan dan duduk di sampingku saat aku makan, dia selalu mengelus-elus kakiku walau aku telah kesekian kalinya mengusirnya. Bahkan dengan cara kasarku, aku menolak kehadirannya saat dia dating ke kamarku, lagi.
Maaf, tapi sungguh aku belum bisa menerimamu. Kau bukan Pussy! Dan takkan bisa seperti Pussy-ku!
***
Kupersembahkan kisah ini khusus untukmu, Pussy. Dimanapun kau berada sekarang, doa dan harapku selalu bersamamu, semoga kau temukan kebahagiaan dan kasih sayang. Kembalilah, jika kau ingin. Aku masih sama seperti dulu.
TAMAT
Tidak ada komentar:
Posting Komentar