Takalar,
10 Oktober 2013
Teruntuk,
Mama dan Papa
di Peraduan.
Assalamu'alaikum Wr. Wb.
Bismillahirrahmanirrahim.
Dengan ini, dengan wajah yang masih basah oleh air mata, dengan kerinduan yang
tiada bertepi, Ananda menggores tinta pena ini . Bagaimana kabar kalian? Semoga
selalu dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah ananda tiadalah kurang apapun.
Mama terkasih..
Hampir tiga tahun berlalu, hidup di rantau orang tidak semudah yang Ananda
bayangkan. Masih teringat dengan jelas kala itu isakanmu, "Nak, hidup
di rantau orang itu tiadalah mudah. Yang tidak disenangi haruslah kita
senang-senangi. Pun yang menyakitkan, harus kita terima."
Maafkan jika dulu Ananda pergi dengan iringan tangis. Semua itu demi menuntut
ilmu dan pencarian jati diri Ananda yang sesungguhnya.
Mama..
Kini Ananda telah berusia 16 tahun. Sudah sangat besar ya? Rasanya waktu sangat
cepat berlalu tanpa makan semeja denganmu, tidur tanpa belaianmu dan tanpa
hangat pelukmu. Masih ingat ketika Ananda nakal, Mama akan memperlihatkan bekas
operasi cesar di perutmu, pengorbanan seorang Mama untuk melahirkanku, anak prematur.
Terima kasih untuk semuanya, Mama.
Sejak di rantau, tiada orang yang paling kurindu, kecuali hadirmu. Di sini,
Ananda harus belajar melakukan semuanya sendiri. Bertemankan sepi, tiada yang
temani kala gundah, bahagia dan derita.
Pun Papa..
Ananda rindu sekali. Rindu saat digendong mengelilingi kampung ketika Ananda
berhasil meraih juara kelas, saat berenang di laut dan berkebun bersama, serta
saat berjualan di pasar.
Biarpun tak banyak bicara, tiada orang di dunia ini yang akan berdiri paling
depan membela saat orang menyakitiku, jika bukan dikau, Papa. Walau sekarang
Ananda hidup di kota, kenangan bersamamu di kampung jauh lebih berharga.
Gedung-gedung dan mobil-mobil yang memenuhi jalan takkan bisa terganti oleh
nyiur kelapa dan debur ombak.
Papa yang selalu Ananda banggakan..
Walau jauh, nasehat-nasehatmu, tutur petuahmu, dan doamu terasa menjaga dan
menaungi. Ada kalimat saat Ananda hendak pergi, yang tiada pernah terlupa
hingga kini, "Anakku, jaga diri di rantau baik-baik. Sesusah apapun
hidupmu, jangan sampai lalai mengingat Allah. Tiadalah harga seseorang, tanpa
hati yang terus bertdzikir menyebut-Nya. Jangan sampai melepas jilbabmu dan jangan malas mengaji, Nak. Jaga akhlak dan pergaulanmu, selalulah ingat pesan orang tuamu."
Duhai Papa..
Seumur hidup, tak pernah terlihat keluh dan tangismu. Namun saat melepasku,
sangat jelas kulihat butiran berharga itu keluar dari matamu. Kau peluk putri
sematang wayangmu, laksana hendak melepas burung dari sangkar emasnya.
Papa dan Mama yang tersayang..
Betapapun begitu, Ananda selalu saja menyakiti hati kalian, selalu saja
membantah. Lagi, kalian selalu memaafkanku, kembali menerima kehadiranku.
Sungguh tak pantas diri ini, bila menjadi insan yang durhaka. Akan berosa daku,
bila kelak kalian tak meridhoi langkah Ananda. Ananda akan selalu bertahan di
negeri orang, hanya untuk kalian, walau sesak terasa di dada dan air mata
imbalannya.
Lebaran Idul Adha tinggal menghitung hari. Dengan seluruh ketulusan dan titik
terendah dalam diri, Ananda haturkan maaf, tuk melebur semua pedih yang pernah
tertancap. Maafkanlah. Maafkanlah Ananda. Sungguh tanpa maaf kalian, Ananda
termasuk orang merugi. Ananda pasti akan sangat rindu dengan sate dan buras
hasil kolaborasi kalian. Taqoballahu minna wa minkum.
Sekian dari Ananda, selalulah doakan Ananda agar selalu dalam hidayah-Nya. Jaga
kesehatan kalian baik-baik. Semoga kelak Ananda bisa cepat pulang dan berkumpul
bersama lagi. Salam buat Adik-adik. Doa dan harap selalu Ananda tengadahkan
untuk keluarga yang jauh di pelupuk mata.
Wassalamu'alaikum Wr. Wb.
Peluk dan cium Ananda,
Wa Ode Puspa Khairunnisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar