Pages

Jumat, 27 Mei 2016

Surat Untuk Mama dan Papa

Takalar, 10 Oktober 2013

Teruntuk,
Mama dan Papa
di Peraduan.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan ini, dengan wajah yang masih basah oleh air mata, dengan kerinduan yang tiada bertepi, Ananda menggores tinta pena ini . Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah ananda tiadalah kurang apapun.

Mama terkasih..
Hampir tiga tahun berlalu, hidup di rantau orang tidak semudah yang Ananda bayangkan. Masih teringat dengan jelas kala itu isakanmu, "Nak, hidup di rantau orang itu tiadalah mudah. Yang tidak disenangi haruslah kita senang-senangi. Pun yang menyakitkan, harus kita terima."

Maafkan jika dulu Ananda pergi dengan iringan tangis. Semua itu demi menuntut ilmu dan pencarian jati diri Ananda yang sesungguhnya.

Mama..
Kini Ananda telah berusia 16 tahun. Sudah sangat besar ya? Rasanya waktu sangat cepat berlalu tanpa makan semeja denganmu, tidur tanpa belaianmu dan tanpa hangat pelukmu. Masih ingat ketika Ananda nakal, Mama akan memperlihatkan bekas operasi cesar di perutmu, pengorbanan seorang Mama untuk melahirkanku, anak prematur. Terima kasih untuk semuanya, Mama.

Sejak di rantau, tiada orang yang paling kurindu, kecuali hadirmu. Di sini, Ananda harus belajar melakukan semuanya sendiri. Bertemankan sepi, tiada yang temani kala gundah, bahagia dan derita.

Pun Papa..
Ananda rindu sekali. Rindu saat digendong mengelilingi kampung ketika Ananda berhasil meraih juara kelas, saat berenang di laut dan berkebun bersama, serta saat berjualan di pasar.
Biarpun tak banyak bicara, tiada orang di dunia ini yang akan berdiri paling depan membela saat orang menyakitiku, jika bukan dikau, Papa. Walau sekarang Ananda hidup di kota, kenangan bersamamu di kampung jauh lebih berharga. Gedung-gedung dan mobil-mobil yang memenuhi jalan takkan bisa terganti oleh nyiur kelapa dan debur ombak.

Papa yang selalu Ananda banggakan..
Walau jauh, nasehat-nasehatmu, tutur petuahmu, dan doamu terasa menjaga dan menaungi. Ada kalimat saat Ananda hendak pergi, yang tiada pernah terlupa hingga kini, "Anakku, jaga diri di rantau baik-baik. Sesusah apapun hidupmu, jangan sampai lalai mengingat Allah. Tiadalah harga seseorang, tanpa hati yang terus bertdzikir menyebut-Nya. Jangan sampai melepas jilbabmu dan jangan malas mengaji, Nak. Jaga akhlak dan pergaulanmu, selalulah ingat pesan orang tuamu."

Duhai Papa..
Seumur hidup, tak pernah terlihat keluh dan tangismu. Namun saat melepasku, sangat jelas kulihat butiran berharga itu keluar dari matamu. Kau peluk putri sematang wayangmu, laksana hendak melepas burung dari sangkar emasnya.

Papa dan Mama yang tersayang..
Betapapun begitu, Ananda selalu saja menyakiti hati kalian, selalu saja membantah. Lagi, kalian selalu memaafkanku, kembali menerima kehadiranku. Sungguh tak pantas diri ini, bila menjadi insan yang durhaka. Akan berosa daku, bila kelak kalian tak meridhoi langkah Ananda. Ananda akan selalu bertahan di negeri orang, hanya untuk kalian, walau sesak terasa di dada dan air mata imbalannya.

Lebaran Idul Adha tinggal menghitung hari. Dengan seluruh ketulusan dan titik terendah dalam diri, Ananda haturkan maaf, tuk melebur semua pedih yang pernah tertancap. Maafkanlah. Maafkanlah Ananda. Sungguh tanpa maaf kalian, Ananda termasuk orang merugi. Ananda pasti akan sangat rindu dengan sate dan buras hasil kolaborasi kalian. Taqoballahu minna wa minkum.

Sekian dari Ananda, selalulah doakan Ananda agar selalu dalam hidayah-Nya. Jaga kesehatan kalian baik-baik. Semoga kelak Ananda bisa cepat pulang dan berkumpul bersama lagi. Salam buat Adik-adik. Doa dan harap selalu Ananda tengadahkan untuk keluarga yang jauh di pelupuk mata.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Peluk dan cium Ananda,

Wa Ode Puspa Khairunnisa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar