Pages

Rabu, 03 Agustus 2016

Her Name Is Mama

Butir keringat berembun di wajahnya yang bersahaja. Tubuhnya disandarkan pada kursi sembari meneguk teh hangat. Aku menatapnya lamat-lamat, menerka gurat di air mukanya. Mungkin ia kelelahan. Walau begitu, ia masih mampu tersenyum padaku. Sebelum ini, aku sungguh menanti hadirnya di ambang pintu. Mengingat malam yang telah pekat.
            “Mobilnya mogok, Nak. Terpaksa Mama harus menunggu sampai mobilnya baik kembali, beberapa yang turut menumpang juga bersama mendorong mobil.”
Aku menghembuskan napas berat. Dalam hati menggerutu, kenapa harus memaksa untuk pulang? Ya, aku paham dengan maksudnya, ia harus segera mengejar kapal tuk keberangkatannya dalam menyelesaikan urusan anak-anak didiknya. Bukan aku tak mendukungnya, ia sungguh sosok mulia karenanya. Namun, aku pernah melihat jalanan yang harus ditempuhnya. Gunung dan sungai, di kedua sisinya ada jurang yang dalam dan bekas reruntuhan bebatuan tua. Aku juga bisa melihat puncak gunungnya di atas langit dan air sungainya yang sampai ke pinggang.
Apalagi jika musim hujan seperti sekarang ini, lumpur akan menempel di roda kendaraan. Pernah, Ia dan Papa jatuh terperosok karena jalanan yang berlubang dan licin. Pun mereka yang terpaksa harus bermalam di gubuk, memakan dan meminum yang ada di dalam hutan. Aduh Mama, tak cukupkah sakit dan luka di sekujur tubuhmu? Berapa besar harga yang didapatmu? Sebandingkah dengan nyawamu?
            “Mama akan pergi ke kota esok, mengurus keperluan anak-anak untuk ujian,” ucapnya tersenyum. Aku menatapnya haru. Aku memahamimu, Mama. Selamanya kau adalah yang terbaik.
***
Aku mendengar sendiri gemeletuk gigiku bersahutan dengan angin dan hujan yang teramat dahsyat. Kulihat mereka telah siap dengan motor tua yang mulai berjalan menghilangkan dua sosok itu dari pelupuk mata.      
“Mama harus tetap pergi! Papamu akan mengantar Mama sampai ke Auponhia1. Lalu Mama akan menyeberang menggunakan speed2 ke kota,” ucapnya sebelum benar-benar mantap untuk pergi. Aku menahan isakanku. Aku tahu, ia akan sendiri nanti.
Setelah hari itu, ia bercerita sedih sambil melap air matanya tentang tangisnya yang tumpah karena sendirian melawan ombak laut. Ia membuatku meremas dadaku karena perih tak tertahan. Tak salah jika orang-orang di kampung, tempatnya bertugas, mengaguminya sebagai wanita tangguh!
***
Di SMP Negeri 3 Satu Atap Mangoli Selatan, dirinya berbakti sebagai kepala sekolah. Menjadi sosok multifungsi. Selain kepala sekolah, ia merangkap menjadi tenaga pengajar di berbagai bidang sekaligus tata usaha. Sekolah yang masih berumur sebiji jagung ini, masih kekurangan dan membutuhkan banyak hal. Satu sosok sepertinya bisa menjawab segalanya.    
“Kami takkan ingin pisah dengan Ibu. Jika boleh, kami ingin tetap tinggal bersama Ibu,” ucapan yang kupetik dari salah satu siswinya yang telah lulus. Kerap kuketahui, banyak siswi yang sering menemaninya. Mengingat antara kami terpisah jarak yang membentang.
“Semua terlanjur menyukai Ibu. Kemarin, masyarakat marah karena mendengar bahwa Ibu akan dipindahkan,” seseorang berseragam tentara lengkap berbincang denganku. Aku mengamininya. Jelas, ia sangat memikirkan nasib mereka. Walau, hanya remah-remah sisa yang didapatnya.
Ia menemani siswanya latihan untuk upacara bendera, turut melepas sepatunya untuk melihat siswanya berlatih qasidah di pesisir pantai. Ia menampung siswanya di rumah kami tuk mengikuti kegiatan kepramukaan. She is the best headmaster, good example,  wonderful woman! Not only that, she is also my teacher, my hero, and my angel! Her name is Mama!  
1 Nama desa tempat Mama bertugas sebagai kepala sekolah
2 Alat transportasi laut berukuran mini namun berkecepatan tinggi

***

Karya ini aku dedikasikan untuk Mama tercinta, Syahidah Polejiwa S.Pd (Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan)

Minggu, 31 Juli 2016

Detektif-Detektif-an

Hari ini sambil menjaga toko, aku bisa menulis tiga lembar cerita genre case. Aku bermimpi membuat sebuah novel detektif yang sangat sarat ilmu dan menjadi menakjubkan. Aku sangat menggilai dunia kriminal dan misteri. Terbukti dari kerakusanku menamatkan komik Detektif Conan, berburu buku Conan Doyle: Sherlock Holmes dan Agatha Christie: Hercule Poirot. Beberapa film tentang detektif dan semacamnya juga telah aku lahap. Kini aku bahkan tengah duduk mempelajari Ilmu Hukum, konsentrasi Ilmu Pidana. Aku bercita-cita menjadi seorang jaksa wanita muda yang handal agar bisa menyelidiki kasus-kasus, mengingat kehadiran detektif swasta tidak memungkinkan di Indonesia. Karena profesi ini sudah dijadikan pekerjaan sampingan para penyidik. Yang menyulitkan hadirnya juga mengenai pengawasan profesi ini. Di negaraku ini memang segala sesuatunya harus diawasi, karena banyak tangan-tangan yang liar

Aku kadang-kadang menjadi gemas dan ingin sekali tahu kebenaran dari kasus kopi sianida yang telah membunuh Wayan Mirna Salihin. Kasus ini bahkan telah diusut selama hampir tujuh bulan dan tak kunjung mendapatkan titik terang. Maklumlah, Indonesia seperti memiliki sejarah baru dalam peningkatan peradaban kriminalitas. Mungkin saja di masa depan profesi detektif swasta dapat menjadi pertimbangan. Aku mungkin akan membuat laman khusus untuk mengulas sedikit ketertarikan tentang kasus kopi maut ini di postingan selanjutnya.

Cukup untuk hari ini.


Jumat, 27 Mei 2016

Tertinggal Oleh Laju Globalisasi

Dulu, waktu masih sering ikutan lomba nulis antologi, pernah sekali ngajak sepupu yang tulisannya emang TOP BGT sayangnya dia domisili di kampung, yang nihil jaringan inet. Saat saya ngomong ke PJ event-nya, kalau-kalau saya bisa ngirim karyanya pakai email saya. Eh, tuh PJ ngomong begini, "Mbak, mana ada di zaman sekarang orang gak bisa internetan?"
Saya pen ketawa miris kalau ingat. Itu dulu, sampai sekarang masih saja begitu. Boro-boro internetan, bisa nelpon dan sms aja sudah luar biasa. Itu juga cuma bisa ngakses Indos*t. Jangan bahas jaringan lah, listrik aja yang bisa dibilang kebutuhan masa kini, bikin kita sapu dada. Bayangkan saja, di kampung saya itu, lampu nyala bergilir per dusun. Sehari nyala, sehari mati. Kalau datang teganya, bisa sampai seminggu nyala, seminggu mati. Itupun cuma nyala di malam hari. Saya jadi sampai hapal jenis-jenis alternatif penerangan tanpa listrik. Sampai kenal yang namanya setrika arang, yang pakai bara api terus dipanasin di atas kompor buat nyetrika. Kalian masih ingat wartel? Di kampung saya, itu masih digunakan. Di rumah saya juga masih ada telepon rumah yang pakai kabel itu.
Tapi saya sangat sangat bersyukur, karena hal itu, kalau pulang kampung, saya masih bisa ngerasain lingkungan, sosial, dan budaya yang hampir punah di zaman yang katanya millenium ini, bisa gak kecanduan gadget di zaman yang katanya generasi google, dan bisa jadi anak-anak lugu kriminalitas dan pergaulan bebas di era yang katanya globalisasi ini.
Tidak muluk-muluk, setidaknya listrik bisa nyala terus dan jaringan ada terus. Apa-apa sekarang bergantung sama listrik, kasihan juga anak rantau kalau mau lepas rindu sama keluarganya.
Susah juga sih ya, yang ngakunya dewan perwakilan rakyat di daerah tiba-tiba tuli, yang dulu pernah janji manis sampai kepilih jadi pelayan rakyat, tiba-tiba jadi buta. Ketemu sama masyarakat yang polos dan nurut-nurut aja. Bersuara dikit, disumpal. Beraksi dikit, digulingkan. Mahasiswa kalau pulang, dikasih ini itu yang wah wah, biar gak banyak ngemeng. Sekalinya ada yang cerdas, cuma diam. Saya jadi berpikir buat nulis surat cinta untuk Pak Presiden. Hahaha.

Esensi Pendidikan Yang Memudar

Masih ingat, waktu masih SD sampai SMP, setiap pagi mesti berbaris apel di depan kelas, yang goyang-goyang atau bisik-bisik dikit, pantatnya dipukulin pakai kayu tebal. Sebelum apel, rame-rame nyapu halaman yang luasnya minta ampun, nyapu ruang guru plus ruang kepsek, bersihin got, setiap hari sabtu nguras dan ngisi bak mandi, benerin perpustakaan, nyiram bunga. Kalau mau dekat ulangan semester, lantai kelas sampai di-pel pakai ampas kelapa. Bahkan kita punya jadwal piket buat teh dan beli makanan untuk guru-guru.
Punya guru Matematika yang kemana-mana selalu bawa mistar kayu panjang, lihat beliau jalan menuju kelas saja sudah gemetaran. Kalau gak ngerjain tugas, punggung tangan dipukulin pakai penghapus papan tulis yang dari kayu sampai merah-merah. Kalau berantem sama teman kelas, disuruh saling jewer terus sayang-sayangan. Belum lagi kalau telat apel atau upacara atau atribut gak lengkap, siap-siap betis dipukulin pakai rotan bambu yang rasanya itu gak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Hahaha.
Meski begitu, saat beliau diisukan akan pindah, kita sekelas nangis kejer sampai ada aksi narik-narik beliau di depan pagar sekolah supaya gak bisa pergi. Dramastis banget. Hahaha. Itu semua gak buat kita ngejahuin guru-guru kita. Saat di luar sekolah, kita bahkan akrabnya kayak teman. Pas kelulusan, airmata tumpah dan nyeseknya gak ketulungan ngalahin kalau nonton drama korea.
Kita dibiasakan bekerja sama dengan teman-teman, tertib dan disiplin, punya tenggang rasa, dan sikap menghormati.
Hasilnya, kita menjadi beradab dan bermoral, jadi bisa ngehargain posisi guru, bisa nyadar kalau kita salah, paham resiko dan tanggungjawab. Kita bukan cuma diajar, tapi juga dididik. Bukan hanya ilmu pengetahuan, tapi juga etika.
Waktu Mama saya jadi guru SMA, setiap sore ada saja yang datang ke rumah buat minta maaf karena sudah ngelakuin kesalahan, sampai ada yang mewek. Nah sekarang? Datangnya ke komnas HAM, ke polisi, hanya karena dilurusin dikit dari yang bengkok. Kita dulu mana tega mau ngelaporin guru, ortu apalagi. Saya bahkan sering dengar Mama ngomong ke setiap guru saya yang dia jumpai, "kalau anak saya salah dan nakal, dipukul saja." Justru ngedukung. Hahaha
Jadi jangan heran ya kalau moral generasi sekarang dipertanyakan, toh pendidikan nyaris gak kelihatan lagi esensinya hanya karena persoalan tuntutan zaman. Mereka sibuk mencanggihkan pemikiran dan pengetahuan, sementara budi pekerti jadi hal yang kuno, langka.

Surat Untuk Mama dan Papa

Takalar, 10 Oktober 2013

Teruntuk,
Mama dan Papa
di Peraduan.

Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Bismillahirrahmanirrahim.

Dengan ini, dengan wajah yang masih basah oleh air mata, dengan kerinduan yang tiada bertepi, Ananda menggores tinta pena ini . Bagaimana kabar kalian? Semoga selalu dalam lindungan Allah SWT. Alhamdulillah ananda tiadalah kurang apapun.

Mama terkasih..
Hampir tiga tahun berlalu, hidup di rantau orang tidak semudah yang Ananda bayangkan. Masih teringat dengan jelas kala itu isakanmu, "Nak, hidup di rantau orang itu tiadalah mudah. Yang tidak disenangi haruslah kita senang-senangi. Pun yang menyakitkan, harus kita terima."

Maafkan jika dulu Ananda pergi dengan iringan tangis. Semua itu demi menuntut ilmu dan pencarian jati diri Ananda yang sesungguhnya.

Mama..
Kini Ananda telah berusia 16 tahun. Sudah sangat besar ya? Rasanya waktu sangat cepat berlalu tanpa makan semeja denganmu, tidur tanpa belaianmu dan tanpa hangat pelukmu. Masih ingat ketika Ananda nakal, Mama akan memperlihatkan bekas operasi cesar di perutmu, pengorbanan seorang Mama untuk melahirkanku, anak prematur. Terima kasih untuk semuanya, Mama.

Sejak di rantau, tiada orang yang paling kurindu, kecuali hadirmu. Di sini, Ananda harus belajar melakukan semuanya sendiri. Bertemankan sepi, tiada yang temani kala gundah, bahagia dan derita.

Pun Papa..
Ananda rindu sekali. Rindu saat digendong mengelilingi kampung ketika Ananda berhasil meraih juara kelas, saat berenang di laut dan berkebun bersama, serta saat berjualan di pasar.
Biarpun tak banyak bicara, tiada orang di dunia ini yang akan berdiri paling depan membela saat orang menyakitiku, jika bukan dikau, Papa. Walau sekarang Ananda hidup di kota, kenangan bersamamu di kampung jauh lebih berharga. Gedung-gedung dan mobil-mobil yang memenuhi jalan takkan bisa terganti oleh nyiur kelapa dan debur ombak.

Papa yang selalu Ananda banggakan..
Walau jauh, nasehat-nasehatmu, tutur petuahmu, dan doamu terasa menjaga dan menaungi. Ada kalimat saat Ananda hendak pergi, yang tiada pernah terlupa hingga kini, "Anakku, jaga diri di rantau baik-baik. Sesusah apapun hidupmu, jangan sampai lalai mengingat Allah. Tiadalah harga seseorang, tanpa hati yang terus bertdzikir menyebut-Nya. Jangan sampai melepas jilbabmu dan jangan malas mengaji, Nak. Jaga akhlak dan pergaulanmu, selalulah ingat pesan orang tuamu."

Duhai Papa..
Seumur hidup, tak pernah terlihat keluh dan tangismu. Namun saat melepasku, sangat jelas kulihat butiran berharga itu keluar dari matamu. Kau peluk putri sematang wayangmu, laksana hendak melepas burung dari sangkar emasnya.

Papa dan Mama yang tersayang..
Betapapun begitu, Ananda selalu saja menyakiti hati kalian, selalu saja membantah. Lagi, kalian selalu memaafkanku, kembali menerima kehadiranku. Sungguh tak pantas diri ini, bila menjadi insan yang durhaka. Akan berosa daku, bila kelak kalian tak meridhoi langkah Ananda. Ananda akan selalu bertahan di negeri orang, hanya untuk kalian, walau sesak terasa di dada dan air mata imbalannya.

Lebaran Idul Adha tinggal menghitung hari. Dengan seluruh ketulusan dan titik terendah dalam diri, Ananda haturkan maaf, tuk melebur semua pedih yang pernah tertancap. Maafkanlah. Maafkanlah Ananda. Sungguh tanpa maaf kalian, Ananda termasuk orang merugi. Ananda pasti akan sangat rindu dengan sate dan buras hasil kolaborasi kalian. Taqoballahu minna wa minkum.

Sekian dari Ananda, selalulah doakan Ananda agar selalu dalam hidayah-Nya. Jaga kesehatan kalian baik-baik. Semoga kelak Ananda bisa cepat pulang dan berkumpul bersama lagi. Salam buat Adik-adik. Doa dan harap selalu Ananda tengadahkan untuk keluarga yang jauh di pelupuk mata.

Wassalamu'alaikum Wr. Wb.

Peluk dan cium Ananda,

Wa Ode Puspa Khairunnisa.

Kamis, 26 Mei 2016

Menjadi Cantik

Teruntuk, Sahabat wanita di seluruh nusantara dan di belahan bumi manapun.
            Wanita yang cantik di dunia ini, sudah sangat banyak. Di mana-mana mata mesti segar menatap wanita cantik. Kecantikan pun sejatinya relatif sifatnya. Boleh jadi menurutku cantik, tapi menurutmu tidak. Meski begitu, satu-satunya yang paling pantas menikmati kecantikan seorang wanita adalah suaminya. Pun satu-satunya tempat tuk memamerkan kecantikan. Alasan sederhana, karena suami adalah jembatan seorang wanita mendapatkan surganya.
            Wanita tak seperti pria, yang bisa penuh terus-menerus beribadah kepada Allah SWT. Namun, untuk mendapatkan surga, wanita telah diberi kemudahan, salah satunya ialah taat pada suami. Sejatinya wanita yang cantik adalah dia yang ketika dipandang oleh suami, dapat menyejukkan mata. Sangat salah, jika dikatakan seorang wanita yang cantik adalah yang mengumbar aurat tidak pada tempatnya, yang berdandan untuk orang lain selain suaminya, yang menggunakan kecantikannya untuk memikat insan lain.
            Faktanya, sekarang ini, banyak wanita yang tampil jauh lebih cantik ke pesta pernikahan atau hajatan lain, dengan kebaya atau gaun-gaun yang indah, higheels yang manis, dan tatanan rambut yang menarik atau jilbab yang diperindah sedemikian rupa. Mampu memoles wajahnya dengan make-up merek termahal. Namun, sangat jauh berbeda ketika di rumah bersama sang suami tercinta. Seketika wanita akan berubah 180 derajat, memakai daster atau piyama yang sudah usang dan pudar warnanya, rambut tergerai berantakan, bedak pun tak disentuh. Lantas, pantaskah yang seperti itu dikatakan wanita yang cantik?

            Sahabat wanita yang cantik hatinya …
            Berikut, sedikit tips sederhana untuk tampil cantik, tentunya di hadapan suami.
1.     Menjaga kebersihan tubuh
Ini sudah pasti harus ada dalam diri seorang wanita. Apalagi yang telah menikah, sangat wajib memperhatikan kesehatan tubuh terkhusus daerah kewanitaan. Cantik datangnya dari sehat, dan sehat dapat terwujud jika bisa menjaga kebersihan, bukan?
2.     Membeli aksesoris yang disenangi Suami
Sebisa mungkin, untuk belanja pernak-pernik yang disukai Suami ketika kita menggunakannya. Misalnya bandana, hijab, jepit rambut, potongan model rambut dan lain sebagainya. Lakukan semua yang disukai Suami. Bukankah cinta butuh pengorbanan?
3.     Harus tetap cantik walau lelah   
Secapek apapun kita dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Entah itu bersih-bersih, nyuci, kerja, belanja, masak, dan lain sebagainya, kita harus tetap tampil cantik. Caranya? Hindari menggunakan sarung, daster, dan baju-baju yang membosankan. Pakailah bedak dan lipgloss tipis-tipis saja. Be a wonder woman.
4.     Don’t angry!

Ini jurus terakhir. Kerutan timbul karena keseringan tubuh menyuplai dan menebarkan emosi negatif.

Selasa, 17 Mei 2016

My Pussy

Based on true story

Di luar sana, ada hasil ciptaan Tuhan yang diperuntukkan untuk menemani. Terkadang dalam hidup, tanpa diduga ada yang diam-diam mengamati kita, menjaga kita, dan melakukan hal-hal yang takkan pernah bisa dilakukan oleh makhluk yang diciptakan paling mulia. Karena satu hal yang diingkari, mereka mempunyai ... hati. Hati yang jauh lebih peka.

***

Takalar, 6 Agustus 2012

Hujan di jendela ini masih sama, butir-butir air masih menempel. Tanah di bawahnya masih lembap. Dingin ini, dan ketenangan ini. Semua masih sama seperti sebulan lalu ketika aku meninggalkan tempat ini. Hanya ada dua hal yang berbeda untuk sekarang dan nanti. Kau … kehadiranmu tak ada lagi dan jendela ini akan terasa berbeda.

“Puspa, ayo kembali ke kelas!” suara sahabat mengejutkanku pada semua tentangmu, tentang kita. Tatapanku menerawang lepas mengamati setiap centi ruangan ini sebelum kakiku benar-benar melangkah pergi tuk meninggalkan kelas yang pernah menjadi kenangan antaraku dan dirimu. Memori itu terkisah bagai durasi video yang menampilkan rentetan adegan-adegan manis membuat alam pikirku tak kuasa tuk berjumpa.

“Duh, lucunya ... Kau dapat dimana?” Tanya Riri, teman sekelasku, seraya mengelus lembut bulumu yang halus, berwarna perpaduan antara kuning dan putih. Ukuran tubuhmu yang mini dan bersih, membuat daya tarik tersendiri. Bola matamu yang coklat terang menatap sendu penuh rintih kepadaku. Kuelus lehermu, kepalamu ikut terangkat, perlahan matamu terpejam bersama kedamaian.

“Pussy, tidur yang nyenyak ya.”Aku memanggilmu Pussy, kuambil dari tiga huruf nama depanku. Kehadiran Pussy di kelas, membuat kebanyakan temanku resah. Ada yang bersin-bersin karena alergi dengan bulumu, ada pula yang menganggapmu makhluk dekil dan bau. Namun tidak denganku, aku menyukaimu sejak awal walau harus kuakui trauma dengan cakar makhluk sepertimu masih menghantuiku. Kau terlelap di atas rok abu-abuku, membuatku tak boleh banyak bergerak agar kau tak terbangun. Aku akan risau jika kau mengeong pelan pertanda kau telah bangun. Sementara guruku sedang berada di depan kelas.

Jam istirahat, aku menyimpanmu di laci mejaku, “Jangan kemana-mana ya? Aku akan segera kembali!” kataku yang dijawab dengan elusan kepalamu di telapak tanganku. Aku merasa, kita bisa berkomunikasi dengan baik. Walau aku tak yakin, kau mengerti dengan bahasaku.

Aku akan memberikan sisa makananku untuk kau makan. Kata orang, jika ada dua orang yang makan dalam satu wadah maka mereka akan saling mengingat. Apakah itu berlaku untuk makhluk sepertimu? Entahlah. Aku menatapmu yang sedang lahap menyantap bagianmu. Oh Tuhan, kenapa aku baru melihat sayatan luka di tubuhmu? Apa yang telah terjadi padamu? Dan, apa yang harus kulakukan? Aku hanya bisa menatapmu penuh kasih, semoga saja hal bodoh yang kulakukan ini, bisa membuatmu tak merasa sakit.

Hari ini, guru mata pelajaran geografiku berhalangan masuk tuk membagikan ilmu. Kesempatan ini tak disia-siakan olehmu. Kaki-kaki mungilmu menggelayut manja di lenganku, meloncat di pangkuanku dan berlari-lari mengelilingi kelas ketika aku sibuk menyelesaikan tugasku. Dan, kau akan datang padaku ketika tubuhmu telah letih lalu tidur di atas tas atau tumpukan buku-bukuku. Jika sudah begitu, aku akan dengan sangat hati-hati memindahkanmu ke laci mejaku.

“Ih, kau jorok sekali, Puspa. Apa kamu tak jijik dengan hewan berbulu itu?” tanya salah seorang temanku. Aku menggeleng lalu menatapnya dengan senyum yang mengambang di pipiku, “Setidaknya, dia tak berbuat buruk padaku, seperti yang dilakukan anak adam,” jawabku.

It’s time to back home, aku bergegas untuk keluar dari kelas, kau mengikutiku dan mengelus-ngeluskan bulumu di kakiku. Aku terus berjalan pulang dan tak menghiraukanmu. Bagaimana pun juga, aku tak mungkin membawamu ikut ke rumahku. Tapi, kau terus saja mengikuti langkahku dan menyelinap di ujung rok panjangku hingga langkah kakiku sampai di gerbang sekolah.

“Huss ... huss ... huss ...,” kukibas-kibaskan tanganku mengusirmu namun kau memang keras kepala, masih kokoh berdiri tanpa bergeser barang se-centi pun. Lama aku mengulangi kegiatanku tapi kau tetap bersikeras tak mau pergi.

“Pergilah! Aku mau pulang! Jangan mengikutiku terus!” bentakku keras sambil berlari keluar gerbang. Hingga beberapa langkah aku berlari, badanku membalik ke belakang dan kau benar-benar pergi. Sigap, aku berlari memasuki sekolahku dan mencarimu. Aku ... menyesal.

“Pussy, maafkan aku. Kita akan ketemu lagi besok. Aku tak bisa membawamu ke rumah,” kataku final ketika mendapatimu duduk termenung di atas mejaku.

***

Aku melupakanmu. Di benakku, kau pasti telah pergi menjelajah bersama kawan-kawanmu. Tak pernah terbesit di pikiranku untuk bertemu denganmu lagi. Sepertinya pikiran itu harus kutepis ketika pagi ini kulihat kau duduk manis di atas mejaku. Mataku membulat, memastikan bahwa itu benar-benar dirimu, Pussy.

“Kenapa kau tak pergi saja?” tanyaku sambil mengelus kepalamu. Kau mengeong dan menjilat-jilati kakimu.

“Puspa, kau sudah gila yah mengajak bicara makhluk ini?” Aku hanya tersenyum membalas ucapannya.

“Wah ... ini yang seperti kemarin kan?” tanya Riri, ia juga menyukaimu. Aku mengangguk. “Kenapa dia ada di sini lagi?”

Kuangkat kedua bahuku menjawab pertanyaan Riri. “Mungkin dia tak tahu jalan pulang,” lanjutku sambil tertawa lucu.

“Kenapa ada hewan di kelas? Bawa dia keluar, Puspa!” perintah wali kelasku sambil menutup hidung dan mulutnya.

“Tapi, Bu ... dia tidak akan ...”

“Bawa dia keluar!” bentak guruku.

Mataku mencuri pandang keluar kelas, kau masih duduk tepat di depan kelasku tanpa sedikitpun berpindah tempat hingga pelajaran usai. Hal ini terulang berkali-kali dan setiap hari. Kau akan duduk menungguku di depan kelas ketika jam pelajaran atau tidur di laci mejaku, kau akan mengantarku pulang sampai di gerbang dan akan duduk manis menungguku di atas meja pada pagi hari. Aku selalu ingin cepat menemuimu setiap pagi.

Semua berlalu indah selama hampir sebulan, hingga aku menemukanmu mengeong pilu di balik jendela kelas. Teman-teman priaku dengan tega membuangmu. Kau terus mengeong tiada henti sambil berusaha memanjati dinding  belakang sekolah.

Setitik air bening menyusup dari sudut mataku melihat deritamu. Dan, hujan deras menghantam tubuh mungilmu, sahutanmu terhenti. Kulihat mata sayumu menggigil kedinginan. Tak sanggup lagi kubentengi deras air mataku yang berlomba keluar. Kumasukkan satu tanganku ke lubang jendela yang telah dihalang oleh rangkaian besi rumit ini. Semampuku, tuk menggapaimu. Dan, hap! Aku memelukmu erat dan membungkus tubuh dinginmu dengan jilbabku. Kristal bening berjalan menyusuri lekuk pipiku. Aku sangat takut. Takut kehilanganmu!

***

Aku kembali dari sebulan liburanku di kampung halaman. Terngiang ucapanku kala itu, “Aku akan pergi, kita akan ketemu lagi nanti!” Dan, kau mengeong.

Rasa sakit terasa hingga di ujung syaraf terhalusku. Aku tak menemukanmu lagi di sini, di pagi ini! Kemana dirimu? Aku sangat yakin kau menungguku selama ini. Terima kasih untuk waktu dan kebahagiaan yang singkat ini. Maafkan aku, membuatmu menunggu lebih lama.

***

Takalar, 23 Agustus 2013

“Kau lihat ini, Puspa?” aku memalingkan wajahku dari layar laptop-ku. Kudapati Tanteku tengah menimang makhluk kecil berbulu, berwarna … putih dan kuning?

“Dia … dia mirip dengan … mengingatkanku pada … ah!” Aku segera beranjak masuk ke kamar. Ada bulu halus yang terasa menyentuh kakiku. Aku bergidik geli. Lama aku memperhatikan geriknya yang sedang menginjak tuts keyboard laptop-ku. Kalimat tak beraturan muncul di layar Ms. Word, membuatku terkekeh geli. Kubuka folder yang berisi koleksi gambar-gambar kucing. Kutampilkan satu persatu, matanya yang mungil menatap serius tak berkedip ke layar monitor.

“Kau sangat mirip dengan Pussy. Andai Pussy masih ada di sini …,” kuhembuskan napas berat seraya mengelus kepalanya. Mataku menerawang lepas mengenangmu.

“Auw!” aku mengerang kesakitan ketika makhluk berbulu ini mencakar tanganku.

“Kau kasar sekali! Sama sekali tak seperti Pussy!” hardikku kasar sambil mengeluarkannya dari kamarku.

Semenjak itu, aku tak menyukai kucing, bagaimana pun, dia tak bisa menggantikan posisimu. Walau begitu, aku tak tega jika dia terus kelaparan dan duduk di sampingku saat aku makan, dia selalu mengelus-elus kakiku walau aku telah kesekian kalinya mengusirnya. Bahkan dengan cara kasarku, aku menolak kehadirannya saat dia dating ke kamarku, lagi.

Maaf, tapi sungguh aku belum bisa menerimamu. Kau bukan Pussy! Dan takkan bisa seperti Pussy-ku!

***

Kupersembahkan kisah ini khusus untukmu, Pussy. Dimanapun kau berada sekarang, doa dan harapku selalu bersamamu, semoga kau temukan kebahagiaan dan kasih sayang. Kembalilah, jika kau ingin. Aku masih sama seperti dulu.

TAMAT

Come Back

Halluu, Readers.

Bagaimana kabar? Apa kabar hati? *apasih

Rasanya sudah berabad-abad lamanya sudah tidak menjamah blog ini. Kira-kira dua tahunan yang lalu, saat aku masuk ke sebuah Universitas. Kesibukan di dunia kampus sungguh memborgol ruang gerakku. Semangatku yang dulunya selalu menggebu untuk menulis banyak hal, kian waktu semakin pupus. Perlahan, aku bahkan kehilangan hariku untuk menulis. Lalu rasanya juga kehilangan jati diriku.
Meski begitu, hati memang tidak pernah berbohong. Aku sangat mencintai dunia menulis, aku harus kembali ke duniaku, bukan? Saat kehilangan masaku untuk menulis, ada yang namanya jeritan hati selalu ingin kembali. Banyak hal yang telah terjadi padaku, banyak hal juga tentunya yang ingin kuceritakan. Aku hanya perlu terus menulis.


Oh yaa, menulis memang sangat menyenangkan. Percayalah. Aku sudah merasakannya berulang kali. So, Readers, aku kembali. Yuhu~~~