Pages

Rabu, 03 Agustus 2016

Her Name Is Mama

Butir keringat berembun di wajahnya yang bersahaja. Tubuhnya disandarkan pada kursi sembari meneguk teh hangat. Aku menatapnya lamat-lamat, menerka gurat di air mukanya. Mungkin ia kelelahan. Walau begitu, ia masih mampu tersenyum padaku. Sebelum ini, aku sungguh menanti hadirnya di ambang pintu. Mengingat malam yang telah pekat.
            “Mobilnya mogok, Nak. Terpaksa Mama harus menunggu sampai mobilnya baik kembali, beberapa yang turut menumpang juga bersama mendorong mobil.”
Aku menghembuskan napas berat. Dalam hati menggerutu, kenapa harus memaksa untuk pulang? Ya, aku paham dengan maksudnya, ia harus segera mengejar kapal tuk keberangkatannya dalam menyelesaikan urusan anak-anak didiknya. Bukan aku tak mendukungnya, ia sungguh sosok mulia karenanya. Namun, aku pernah melihat jalanan yang harus ditempuhnya. Gunung dan sungai, di kedua sisinya ada jurang yang dalam dan bekas reruntuhan bebatuan tua. Aku juga bisa melihat puncak gunungnya di atas langit dan air sungainya yang sampai ke pinggang.
Apalagi jika musim hujan seperti sekarang ini, lumpur akan menempel di roda kendaraan. Pernah, Ia dan Papa jatuh terperosok karena jalanan yang berlubang dan licin. Pun mereka yang terpaksa harus bermalam di gubuk, memakan dan meminum yang ada di dalam hutan. Aduh Mama, tak cukupkah sakit dan luka di sekujur tubuhmu? Berapa besar harga yang didapatmu? Sebandingkah dengan nyawamu?
            “Mama akan pergi ke kota esok, mengurus keperluan anak-anak untuk ujian,” ucapnya tersenyum. Aku menatapnya haru. Aku memahamimu, Mama. Selamanya kau adalah yang terbaik.
***
Aku mendengar sendiri gemeletuk gigiku bersahutan dengan angin dan hujan yang teramat dahsyat. Kulihat mereka telah siap dengan motor tua yang mulai berjalan menghilangkan dua sosok itu dari pelupuk mata.      
“Mama harus tetap pergi! Papamu akan mengantar Mama sampai ke Auponhia1. Lalu Mama akan menyeberang menggunakan speed2 ke kota,” ucapnya sebelum benar-benar mantap untuk pergi. Aku menahan isakanku. Aku tahu, ia akan sendiri nanti.
Setelah hari itu, ia bercerita sedih sambil melap air matanya tentang tangisnya yang tumpah karena sendirian melawan ombak laut. Ia membuatku meremas dadaku karena perih tak tertahan. Tak salah jika orang-orang di kampung, tempatnya bertugas, mengaguminya sebagai wanita tangguh!
***
Di SMP Negeri 3 Satu Atap Mangoli Selatan, dirinya berbakti sebagai kepala sekolah. Menjadi sosok multifungsi. Selain kepala sekolah, ia merangkap menjadi tenaga pengajar di berbagai bidang sekaligus tata usaha. Sekolah yang masih berumur sebiji jagung ini, masih kekurangan dan membutuhkan banyak hal. Satu sosok sepertinya bisa menjawab segalanya.    
“Kami takkan ingin pisah dengan Ibu. Jika boleh, kami ingin tetap tinggal bersama Ibu,” ucapan yang kupetik dari salah satu siswinya yang telah lulus. Kerap kuketahui, banyak siswi yang sering menemaninya. Mengingat antara kami terpisah jarak yang membentang.
“Semua terlanjur menyukai Ibu. Kemarin, masyarakat marah karena mendengar bahwa Ibu akan dipindahkan,” seseorang berseragam tentara lengkap berbincang denganku. Aku mengamininya. Jelas, ia sangat memikirkan nasib mereka. Walau, hanya remah-remah sisa yang didapatnya.
Ia menemani siswanya latihan untuk upacara bendera, turut melepas sepatunya untuk melihat siswanya berlatih qasidah di pesisir pantai. Ia menampung siswanya di rumah kami tuk mengikuti kegiatan kepramukaan. She is the best headmaster, good example,  wonderful woman! Not only that, she is also my teacher, my hero, and my angel! Her name is Mama!  
1 Nama desa tempat Mama bertugas sebagai kepala sekolah
2 Alat transportasi laut berukuran mini namun berkecepatan tinggi

***

Karya ini aku dedikasikan untuk Mama tercinta, Syahidah Polejiwa S.Pd (Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan)