Butir keringat berembun di wajahnya yang bersahaja. Tubuhnya
disandarkan pada kursi sembari meneguk teh hangat. Aku menatapnya lamat-lamat,
menerka gurat di air mukanya. Mungkin ia kelelahan. Walau begitu, ia masih
mampu tersenyum padaku. Sebelum ini, aku sungguh menanti hadirnya di ambang
pintu. Mengingat malam yang telah pekat.
“Mobilnya mogok,
Nak. Terpaksa Mama harus menunggu sampai mobilnya baik kembali, beberapa yang
turut menumpang juga bersama mendorong mobil.”
Aku menghembuskan napas berat. Dalam hati menggerutu, kenapa harus
memaksa untuk pulang? Ya, aku paham dengan maksudnya, ia harus segera mengejar
kapal tuk keberangkatannya dalam menyelesaikan urusan anak-anak didiknya. Bukan
aku tak mendukungnya, ia sungguh sosok mulia karenanya. Namun, aku pernah
melihat jalanan yang harus ditempuhnya. Gunung dan sungai, di kedua sisinya ada
jurang yang dalam dan bekas reruntuhan bebatuan tua. Aku juga bisa melihat
puncak gunungnya di atas langit dan air sungainya yang sampai ke pinggang.
Apalagi jika musim hujan seperti sekarang ini, lumpur akan menempel
di roda kendaraan. Pernah, Ia dan Papa jatuh terperosok karena jalanan yang
berlubang dan licin. Pun mereka yang terpaksa harus bermalam di gubuk, memakan
dan meminum yang ada di dalam hutan. Aduh Mama, tak cukupkah sakit dan luka di
sekujur tubuhmu? Berapa besar harga yang didapatmu? Sebandingkah dengan nyawamu?
“Mama akan pergi
ke kota esok, mengurus keperluan anak-anak untuk ujian,” ucapnya tersenyum. Aku
menatapnya haru. Aku memahamimu, Mama. Selamanya kau adalah yang terbaik.
***
Aku mendengar sendiri gemeletuk gigiku bersahutan dengan angin dan
hujan yang teramat dahsyat. Kulihat mereka telah siap dengan motor tua yang mulai
berjalan menghilangkan dua sosok itu dari pelupuk mata.
“Mama harus tetap pergi! Papamu akan mengantar Mama sampai ke
Auponhia1. Lalu Mama akan menyeberang menggunakan speed2 ke
kota,” ucapnya sebelum benar-benar mantap untuk pergi. Aku menahan
isakanku. Aku tahu, ia akan sendiri nanti.
Setelah hari itu, ia bercerita sedih sambil melap air matanya
tentang tangisnya yang tumpah karena sendirian melawan ombak laut. Ia membuatku
meremas dadaku karena perih tak tertahan. Tak salah jika orang-orang di
kampung, tempatnya bertugas, mengaguminya sebagai wanita tangguh!
***
Di SMP Negeri 3 Satu Atap Mangoli Selatan, dirinya berbakti sebagai
kepala sekolah. Menjadi sosok multifungsi. Selain kepala sekolah, ia merangkap
menjadi tenaga pengajar di berbagai bidang sekaligus tata usaha. Sekolah yang
masih berumur sebiji jagung ini, masih kekurangan dan membutuhkan banyak hal.
Satu sosok sepertinya bisa menjawab segalanya.
“Kami takkan ingin pisah dengan Ibu. Jika boleh, kami ingin tetap
tinggal bersama Ibu,” ucapan yang kupetik dari salah satu siswinya yang telah
lulus. Kerap kuketahui, banyak siswi yang sering menemaninya. Mengingat antara
kami terpisah jarak yang membentang.
“Semua terlanjur menyukai Ibu. Kemarin, masyarakat marah karena
mendengar bahwa Ibu akan dipindahkan,” seseorang berseragam tentara lengkap
berbincang denganku. Aku mengamininya. Jelas, ia sangat memikirkan nasib
mereka. Walau, hanya remah-remah sisa yang didapatnya.
Ia menemani
siswanya latihan untuk upacara bendera, turut melepas sepatunya untuk melihat
siswanya berlatih qasidah di pesisir pantai. Ia menampung siswanya di rumah
kami tuk mengikuti kegiatan kepramukaan. She is the best headmaster, good
example, wonderful woman! Not only that,
she is also my teacher, my hero, and my angel! Her name is Mama!
1 Nama desa tempat Mama bertugas
sebagai kepala sekolah
2 Alat transportasi laut berukuran
mini namun berkecepatan tinggi
***
Karya ini aku dedikasikan untuk Mama tercinta, Syahidah Polejiwa
S.Pd (Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Satap Mangoli Selatan)